Mengapa Saya Suka Radio?

Ya, Mengapa saya menyukai hal hal yang berhubungan dengan radio?

Kesukaan saya terhadap radio, saya kira tipikal seperti kebanyakan orang, Jadi Ceritanya akan kilas balik ke masa kecil saya di kaki bukit daerah pelosok Pacitan, tepatnya di Desa Bogoharjo, kecamatan Ngadirojo.
Ketika itu, ayah saya baru datang dari merantau ke pulau Bangka sekitar tahun 1988, dari sana beliau membeli 2 barang yang saya ingat, sebuah sepeda jengki baru dan sebuah radio tape, sepeda jengkinya masih bertahan hingga saya umur 25an, dan radio tapenya masih bertahan hingga saya lulus STM pada tahun 2000.
Selain itu, ada tiga barang yang saya masih ingat, sebuah arloji mekanis, sebuah tang kombinasi, dan sebuah kalkulator.
Kesukaan saya waktu masih SD, suka mengumpulkan baterai bekas, kemudian dirangkai menjadi lampu senter, taunya kita dulu ada 3 macam bola lampu kecil, yang kecil cabe kerucut untuk senter 2x baterai AA yang sinarnya ada fokusnya, dan yang kecil untuk senter 2x baterai tipe D dan yang untuk 3x baterai tipe D.
Eksperimen senter ini tentunya dengan hasil variatif, kalau baterainya masih bagus, nyalanya terang, kalau kegedean, filamen dop lampunya putus, sehingga membeli bohlam senter menjadi rutinitas, saya pikir disini adalah dasar dasar saya mengenal listrik arus DC.
Jaman itu belum ada listrik, rumah tangga masih pakai lampu teplok dan petromak, lampu petromak dihidupkan hanya untuk bekerja, kedua orang tua saya adalah penjahit.
Hiburan kami sebelum punya TV hitam putih, ya tape recorder merk national gobel dengan fitur 5 band equalizer tadi, dengan aki 7Ah, bisa kita gunakan untuk mendengar radio dan memutar kaset kaset Betharia Sonata hingga seminggu, mengecas aki ke tempat tukang cas aki menjadi rutinitas sendiri. Awal-awalnya tape recorder tadi menggunakan baterai, dengan 6 baterai D, kalau dipakai hanya untuk mendengarkan radio, akan bertahan selama sebulan pemakaian, tapi kalau dipakai untuk mendengarkan kaset, ya paling bertahan seminggu.
Jaman ini adalah jaman dimana sandiwara radio adalah hal yang trending, yang kemudian difilmkan dan filmnya biasa kita lihat di layar tancap, dari Babad Tanah Leluhur, Saur Sepuh hingga Mak Lampir, Anda bayangkan sensasinya bagaimana kalau pikiran anda dipenihi imajinasi kekehan nenek Lampir di dunia tanpa listrik, anda berbekal hanya lampu senter dan anda melewati jalan sepi di tengah gelapnya malam, lewat bawah pohon bambu dan kuburan, silakan ukur nyali anda seberani apa, ditambah nyaring suara belalang dan jangkrik, dan pendaran sinar kunang kunang…. hihihihihihi, belum lagi dengan alunan suara burung hantu dan lolongan anjing hihihihihi….

Ya, jika listrik itu akan mengubah semuanya menjadi modern, saya kira ada benarnya, tahun 1994 Listrik di desa kami baru menyala full, saya ingat Ayah saya membeli sebuah pompa air bahkan ketika listrik belum nyala, dan kita nggak paham bahwa pompa air itu harus pakai tysen klep, kita coba seharian ini kenapa pompa nggak mau nyedot, ternyata harus pakai katup penahan air balik.

Balik lagi ke radio, suatu waktu, sama mendengarkan radio di SW1 di gelombang 100 meter hingga 75 meter band, saya kaget dan tertarik kok ada orang berkomunikasi disitu, kemudian saya baru paham, disitu orang orang berkomunikasi dengan radio pemancar AM. berjalannya waktu, ketika saya duduk di STM kelas 1, saya mulai tertarik mendengarkan radio FM, karena radio FM suaranya lebih jernih dan audionya lebih hi-fi. Mulailah kita kenal dengan tuner FM, dan mulailah saya mengerti bahwa radio itu tidak harus berupa radio tape seperti yang ayah beli.
Dengan radio tuner FM, kita bisa mendengarkan siaran radio FM dari kota kota lain seperti Madiun, Solo, Klaten, Jogya, Semarang, hingga Surabaya, tentunya kita harus memakai antenna pengarah yang dipasang tinggi.
Stasiun radio FM yang saya ingat, DCS FM Madiun, RRI Madiun, RRI Yogya, SAS FM Solo, RWK FM Klaten, Suara Giri FM Gresik, dan banyak stasiun fm lain yang timbul tenggelam.
Kemudian suatu waktu saya mendengar ada suara radio FM kok aneh, sinyalnya kuat, sinyal stereo radio tuner fm saya kok gak nyala, ternyata itu adalah stasiun FM lokal tetangga yang memancarkan lagu lagu Dewa 19, dan di frekuensi bawah, disekitar 88 hingga 90MHz kok banyak orang rojas rojes seperti bersautan satu sama lain.
Kemudian saya dan tetangga saya akhirnya memulai eksperimen pemancar FM. Dari sinilah kemudian saya mulai memahami radio itu bagaimana, apa itu sinyal RF, bagaimana suatu system radio FM bekerja.
Hingga berakhirnya kegiatan hobby ngoprek pemancar FM ini, saya belum punya SWR power meter, saya hanya berpatokan pada informasi bahwa transistor C2053 akan mengeluarkan RF maksimum 0.5W, transistor C1970 akan mengeluarkan RF maksimum 4W, C1971 akan mengeluarkan RF maksimum 7W, C1946 akan mengeluarkan FM maksimum 30W dan C2630 akan mengeluarkan RF maksimum sebesar 60W.
Tahun 2001 saya merantau ke Jakarta, saya vakum dari belajar ngoprek radio FM, pengin kesampaian punya HT waktu itu di pekerjaan hanya pakai saja, pernah iseng saya pinjam bawa pulang itu GP68, saya pindahkan ke mode VFO untuk agar bisa berkomunikasi di 140 hingga 145MHz, waktu itu belum paham betul apa itu RAPI apa itu ORARI, jadi agar jauh GP68 tadi saya pakai antenna luar dengan kabel TV 75 Ohm dan antena model gamma match, tapi saya nggak tau matchnya dimana, pokoknya waktu itu pernah nyoba, dari Jatiwaringin bisa komunikasi dengan orang di Pasar Minggu.
Hobby radio saya kemudian vakum lagi beberapa saat hingga saya mulai lagi sekitar tahun 2010, Facebook mulai menjadi bagian dari kehidupan, termasuk hobby radio saya yang mulai bersemi kembali.
Saya mulai traceback lagi, mencoba pemancar SW hingga BITX, 10 tahun ke belakang ini saya banyak belajar semua aspek radio telekomunikasi radio amatir, dari tidak tidak paham sama sekali hingga mulai memahami pemprograman radio rakom itu seperti apa, sudah mulai mampu mapping tipe dan jenis radio rakom berdasarkan merk dan apa bagus dan jeleknya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s